Pemurtadan terhadap Umat Islam

Konsep Tauhid dalam Islam yang di Perjuangkan para Nabiullah dengan mempertaruhkan hidup kehidupannya demi kejayaan Islam merupakan tindakan yang terjabarkan dalam firman Allah yaitu sebagai berikut :

"Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad diantara kamu dari agamanya, maka mereka mati dalam keadaan kekafiran, mereka itulah yang sia-sia amalannya didunia dan diakhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya". (QS. Al-Baqarah: 217)


"Dan kami seberangkan Bani Israil keseberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka Bani Israil berkata : “ Hai Musa a.s. buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala) Musa a.s. menjawab : Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". (QS. Al-Araf :138)

Ayat ini menjelaskan bagaimana Nabi Musa a.s. memposisikan diri sebagai muslim sejati, yang memiliki kemantapan ritual dalam penyembahan kepada Allah SWT selaku Tuhan YME dengan memahami dan memaknai sifat-sifat yang harus dimiliki Tuhan yang patut disembahnya, tanpa harus mencoba memaklumi apa yang diinginkan oleh para penyembah berhala yang mencoba mengajak Musa a.s. untuk turut dalam proses penyembahan mereka.

Perjuangan Nabi Ibrahim a.s. yang penuh dengan keyakinan kepada ajaran Allah SWT, berani mengambil sikap untuk memusnahkan patung-patung berhala yang dijadikan Tuhan, walaupun harus melawan kehendak ayah kandungnya sendiri dan penguasa Namrudz pada saat itu. Kemudian masa sesudah itu dilanjutkan dengan tindakan pembersihan ka’bah dari berhala-berhala oleh Nabi Muhammad SAW yang pada saat itu hampir mengiyakan permintaan kaum penyembah berhala dengan mengatakan agar berhala (patung) mereka jangan dienyahkan, tetapi tetap berada ditempatnya dan dipadukan dengan ka’bah. Ajakan ini hampir saja disetujui Nabi Muhammad SAW, dan kemudian turunlah surat Al-Kafirun sebagai teguran atas tindakan Nabi Muhammad SAW yang memberikan penegasan untuk tidak mendekati atau bersama dalam bentuk tindakan kekafiran sebagaimana tersebut dalam Firman Allah SWT

untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. ( Q.S. Al-Kafirun : 6 )

Ini adalah sebagian kecil kisah para Nabi dalam memperjuangkan ketauhidan dan hal ini masih banyak dijelaskan dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Perjuangan mereka telah membuka ruang keimanan dan ketakwaan dalam proses berkehidupan dan bermasyarakat. Namun segala upaya Syiar Islam yang diperjuangkan tidak tetap dipupuk oleh pelanjut perjuangan. Beban dan tanggung jawab sebagai individu yang menganggap dirinya Islam, seakan sirna dengan kesengajaan dan ketidakpatuhan dengan konsep yang telah disepakati dengan pengakuan ke-Islamannya. Kondisi keummatan hari ini dipertanyakan keberadaannya, Al-Quran dan Al-hadist sebagai petunjuk bagi umat Islam tak mampu diaplikasikan sebagaimana seharusnya. Pengakuan ke-Esaan yang didengungkan dan sebagai janji hidup bagi umat Islam sebagaimana termaktub dalam Rukun Islam yaitu bersyahadat dengan bunyi : “ Aku bersaksi Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah”, hanya menjadi hiasan kata semata.

Ummat semakin tidak paham dengan Islam yang dianutnya, kehilangan keyakinan, serta tidak mampu bersikap dan mudah terkoptasi dengan wacana yang tidak jelas maksudnya. Metodologi pemurtadan yang disusun dengan apik oleh pihak-pihak yang menginginkan kehancuran Islam semakin menguat dan memberi ruang segar kepada pihak-pihak mereka. Dalam firman Allah pun dijelaskan :

"Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. katakanlah : “sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu". (QS. AlBaqarah:120).

Ayat tersebut diatas merupakan landasan yang sangat kuat akan bahaya yang mengancam ummat Islam dalam program permurtadan mereka. Akan tetapi sangatlah ironis apabila temu dialog yang dibarengi dengan pengukuhan doa bersama, penyatuan lintas agama, melantunkan doa dalam satu atap malah disepakati oleh sebagian ulama’. Seharusnya hal ini menjadi bahan pertimbangan umat islam terkhususnya ulama untuk menghindari berulang kembali sejarah yang tak lain adalah bentukan baru atas penyembahan berhala (patung). Seharusnya keyakinan ber-Islam harus disertai dengan tindakan mengagungkan ritual ke-Islaman, bahkan malah dilecehkan dengan cara mengikuti upacara keagamaan mereka.
Pertanyaan kemudian timbul, apakah Allah SWT akan menerima lantunan doa-Mu jika masih ada pengakuan mujarabnya doa dari pemeluk agama lain dengan mengiyakan penyembahan pada patung (berhala) ? Sungguh tindakan tersebut mengakibatkan umat islam menerima imbas dari suatu bencana seperti Tsunami, Banjir, gempa longsor dan lain-lain. Tuhan murka dengan tidak konsisten terhadap apa yang diwahyukan-Nya. Analisa panjang dari bencana yang ditimpakan kepada bangsa Indonesia sebagai negara yang bermayoritaskan Islam.

Apakah keIslaman yang kita pahami sudah benar ataukah kita tak mampu mengejawantahkan apa yang diinginkan Allah SWT yang telah difirmankan-Nya?

Sebagaimana dijelaskan dalam Firman Allah SWT yang berbunyi:

"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya". ( Q.S. Al-Maidah : 13 )

Ayat ini mengingatkan sikap acuh tak acuh ummat Islam dalam melakukan penyembahan terhadap Allah SWT, dan menjadi catatan bagi para ulama untuk menghindari bentuk tindakan kekafiran yang sering dilakukan dengan mengambil kebijakan yang tak berpatron pada apa yang dikehendaki Allah SWT seperti mengiyakan program doa bersama, lantunan doa dalam satu atap, penyatuan lintas agama dan bentuk tindakan kekafiran lainnya.
Seharusnya para ulama diharapkan tidak terkecoh dengan uraian kata orang kafir , ulama yang baik sekiranya dapat memberikan keyakinan bukan keraguan bagi umatnya, bukan sekedar janji-janji fatamorgana tapi dibutuhkan tindakan aktif apa yang seharusnya dilakukan untuk merespon krisis keyakinan yang melanda umat Islam agar tidak tergiring oleh arus yang melemahkan keyakinan bahkan mengarah pada perbuatan murtad.
Segala cobaan yang ditimpakan kepada kita dapat menjadi bahan koreksi untuk bagaimana melakukan apa yang harus dilakukan oleh para ulama. Doa bersama dan bentuk-bentuk tindakan yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT agar tidak terulang kembali sebagaimana pada jaman jahiliah dengan penyembahan berhalanya. Para ulama sebagai pihak yang menyuarakan kebenaran islam diharapkan untuk tidak bertindak gegabah kemudian harus kembali pada koridor yang sebenarnya sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pejuang-pejuang Islam terdahulu dan jangan lagi mencoba memancing kemurkaan Allah SWT, cukuplah bencana kutukan yang telah lalu menjadi teguran bagi kita sebagai makhluk yang dikasihi-Nya.

Firman Allah SWT :

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya demikian pula Yakub (Ibrahim berkata) : Hai Anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam”. ( Q.S. Al-Baqarah : 132 ).

Mati dalam Islam adalah suatu keharusan, berpegang teguh pada tali Allah tanpa ada rasa takut sedikitpun. Belajar dari sejarah, maka sudah saatnya umat Islam bangkit, dan tidak lagi melakukan tindakan kekafiran yang mendekati pada permutadan diri.

“ Untuk itu : selaku Islam, berani mati demi Islam “ .

SERUAN SYIAR

Bila hati dan kata telah menyatu dalam niat, aku cinta kepada ALLAH dan meyakini ke-EsaanNya maka tiada kata lain selain berjuang memerangi musuh-musuhNya.

  1. Dihimbau kepada seluruh ummat islam untuk sadar dari ketidak sadaran akan bahaya permurtadan melalui doa bersama yang akan melemahkan keyakinan terhadap Islam dan akan menggerogoti alam pemikiran untuk menyatakan bahwa pada dasarnya agama itu semua sama.
  2. Mengajak kepada seluruh ummat islam untuk kembali kepada konteks keyakinan yang mempunyai dalil yang berdasar pada Al Qur’an dan Al Hadits dan tidak langsung percaya akan fatwa ulama’ yang cenderung membingungkan dan tidak memberikan suatu kepastian yang mampu memberikan jaminan kepada umat islam, apalagi pada tindakan-tindakannya dalam masalah keyakinan (Habluminallah) yang dapat menggiring ummat islam pada prosesi permurtadan yang salah satunya melalui do’ a bersama.
  3. Diberitahukan kepada umat islam bahwa sekarang telah banyak fatwa-fatwa yang mengatas namakan islam akan tetapi fatwa tersebut malah mempelencengkan arti dan makna Al Qur’ an dan Al Hadits
  4. Diminta kepada umat islam agar bersama-sama mengembalikan islam pada konteks keyakinan yang sebenar-benarnya sebagaimana yang telah dilakukan oleh para nabi-nabi terdahulu dalam memberantas/menghilangkan berhala-berhala yang telah dijadikan tuhan oleh para kaum kafir dikota Mekkah
  5. Diminta kepada seluruh umat islam agar tidak ikut dalam ritual-ritual agama lain yang mengatas namakan kemanusiaan, toleransi, perdamaian dan persaman antar agama yang secara langsung mengikat kita pada pengakuan tentang ketuhanan dan kekafiran mereka yang nyata.
  6. Meminta kepada ulama dalam mengeluarkan fatwa-fatwanya yang dapat memberikan kepastian kepada umat islam sebagai pemegang amanah ALLAH SWT bukan berdasarkan pesanan sponsor atau kepentingan duniawi belaka.

================================================
Direlease pada 13 Muharam 1426/22 Pebruari 2005

0 comments: